Pada waktu gerhana bulan, dimana bulan yang tadinya terang gelap gulita. Tanda-tanda alam seperti ini sering dihubung-hubungkan akan dijadikan peristiwa luar biasa di Bumi tempat manusia tinggal. Misalnya saja selang beberapa hari atau beberapa minggu di daerah tertentu terjadi bencana alam, wabah penyakit, kributan atau bentrok antar masa dan sebagainya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, orang-orang yang bijaksana, orang-orang wikan, para sesepuh, para rohaniawan dan yang mengetahui seluk beluk kejadian tanda-tanda alam, biasanya sepakat melakukan Yoga semadi, mendoakan agar bumi ini terhindar dari bencana. 

Gerhana juga diidentikkan dengan seseorang yang tadinya riang gembira, bersuka ria, bersuka cita, tiba-tiba berubah murung dan sedih, karena ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia atau hatinya diliputi oleh Gerhana. Tradisi di Indonesia khususnya di Bali jika terjadi Gerhana Bulan, maka orang-orang sibuk membuyikan kentongan atau benda apa saja yang bisa di pukul. Tujuannya adalah untuk mengusir Kala Rahu yang menelan Bulan. Mitos ini tertuang dalam sebuah Purana yang kemudian menjadi sebuah dongeng dan sangat populer di Negeri Nusantara.

Kisah Kala Rahu Menelan Bulan,Ceritanya Adalah Sabagai Berikut :

Kisah ini terjadi ketika para raksasa dan para Dewa bekerja sama mengaduk lautan susu untuk mencari “Tirtha Amertha” atau Tirtha Kamandalu. Konon siapa saja yang meminum tirtha itu maka dia akan abadi (tidak bisa mati). Maka setelah tirtha itu didapatkan kemudian dibagi rata. Tugas membagi tirtha adalah Dewa Wisnu yang menyamar menjadi gadis cantik, lemah gemulai. Dalam kesepakatan diatur bahwa para Dewa duduk dibarisan depan sedangkan para Raksasa dibarisan belakang.

Syahdan ada Raksasa bernama “Kala Rahu” yang menyusup dibarisan para Dewa, dengan cara merubah wujudnya menjadi Dewa. Namun penyamarannya ini segera diketahui oleh Dewa Candra atau Dewa Bulan. Maka ketika tiba giliran Raksasa Kala Rahu mendapatkan “Tirtha Keabadian”, disitulah Dewa Candra berteriak. “Dia itu bukan Dewa, dia adalah Raksasa Kala Rahu”. Namun sayang tirtha itu sudah terlanjur diminum. Maka tak ayal lagi Cakra Dewa Wisnu menebas leher Sang Kala Rahu. Maka demikianlah, karena lehernya sudah tersentuh oleh Tirtha Keabadian, sehingga tidak bersentuh oleh kematian. Wajahnya tetap hidup dan melayang-layang diangkasa. Sedangkan tubuhnya mati, karena belum sempat tersentuh oleh tirtha kamandalu. Sejak saat itu dendamnya terhadap Dewa Bulan tak pernah putus-putus, dia selalu mengincar dan menelan Dewa Bulan pada waktu Purnama. Tapi karena tubuhnya tidak ada maka sang rembulan muncul kembali kepermukaan. Begitulah setiap Sang Kala Rahu menelan Dewa Bulan terjadilah Gerhana.

Makna yang terkandung dalam mitos ini adalah, bahwa jika seseorang belum bisa melepaskan sifat-sifat keraksasaannya maka dia belum boleh mendapatkan keabadian. Sang Kala Rahu yang tidak sabar menunggu giliran akhirnya harus kehilangan tubuhnya. Sedangkan Dewa Candra yang menjadi sasaran kemarahan Kala Rahu harus menanggung akibatnya. Dimana jika terjadi gerhana, maka dunia akan mengalami bencana atau musibah.

Untuk menanggulangi hal seperti ini maka seseorang, diharapkan selalu eling dan waspada. Setelah terjadinya gerhana biasanya orang-orang wikan membuat sesajen tertentu untuk mencegah sebelum bencana itu terjadi. Gerhana lebih banyak disorot oleh para ilmuan modern sebagai peristiwa alam biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Namun bagi kalangan para pengamat supranatural dan kebathinan, Gerhana bulan tetap harus diwaspadai. Dengan kata lain hendaknya masyarakat berhati-hati, karena peristiwa-peristiwa buruk sangat rawan terjadi.

Selain Gerhana Bulan, tanda-tanda alam yang juga dijadikan pedoman oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia adalah munculnya “Bintang Kukus” atau Komet berekor yang mengeluarkan asap mengepul. Biasanya kemunculan Bintang Kukus ini sebagai pertanda jatuhnya seorang Pemimpin suatu negara. Namun sebelum itu didahului oleh percekcokan-percekcokan serta pertumpahan darah. Krisis moneter atau krisis ekonomi dan krisis moral serta terjadinya keributan-keributan di suatu wilayah.

Terlepas dari mitos atau kepercayaan semacam itu hendaknya sejak dini seseorang sudah menekuni dan memperdalam serta memulai menggembleng dirinya untuk tidak terpengaruh oleh sesuatu yang diluar dugaan. Zaman dulu ketika teknologi tidak secanggih sekarang peristiwa Gerhana Bulan dianggap suatu yang diluar dugaan. Namun kini dengan pesatnya kemajuan dibidang Iptek (Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi) Peristiwa Gerhana sudah bisa diramalkan kemunculannya dan tidak perlu ditakuti.

Raksasa Kala Rahu Menela Bulan Terjadi GerhanaNamun meskipun begitu kepercayaan akan adanya peristiwa yang tak diharapkan tetap harus diwaspadai. Purnama Tilem memberi kesempatan seluas-luasnya pada umat manusia untuk melakukan ritual pemujaan. Pengendalian dan pendidikan budi pekerti. Hendaknya hari suci Purnama Tilem betul-betul dimanfaatkan untuk memupuk nilai-nilai keimanan dalam diri setiap orang. Musnahkan sifat-sifat raksasa dalam diri, jangan menjadi Kala Rahu (Nuju Peteng/ketika kegelapan datang). Orang yang berilmu pengetahuan hendaknya seperti bulan Purnama, memberi kesejukan dan penerangan bagi semuanya.

Purnama Tilem, hari yang identik dengan kesucian, keharmonisan, kegembiraan. Tekadkan niat untuk selalu berada dijalan yang lurus, percaya diri bahwa Sang Hyang Jagad Pratingkah, akan senantiasa membimbing umat-Nya menuju ke alam yang Sunyata (Alam nyata yang sesungguhnya). Alam yang tidak ada konflik, alam kebebasan, alam kebahagiaan Surgawi. Pastikan dia senantiasa hadir di tengah-tengah para pemuja-Nya. Lakukan pemujaan dengan setulus-tulusnya.

Dia yang dipuja turut memuja, memberkati dengan rahmat-Nya dengan senyum manis-Nya, dengan kasih sayang –Nya. Dia yang tulus, meluluskan permohonannya dengan karunia kebijaksanaan. Dia yang berbakti, terberkati dengan karunia yang berlimpahan. Dia yang menghibur, terhibur oleh alunan musik surgawi dan kedamaian. Dia yang mendoakan kidung Perdamaian, memperoleh anugerah Shanti dihatinya, dan Prema (kasih sayang yang tulus) di Tri Loka.
Dalam memulai bisnis tentunya dibutuhkan keyakinan, memulai bisnis tanpa keyakinan sering kali membuat bingung para pemula. Umumnya keraguan terletak dari segi permodalan. Memang benar bahwa bisnis memerlukan modal, tetapi sebenarnya modal dapat ditemukan dari mana saja. Disisi lain banyak orang yang mempunyai modal cukup tetapi bingung untuk memulai sebuah bisnis yang menghasilkan. Seorah wirausahawan pada hakikatnya ditandai oleh kemampuan melangkah dengan modal seadanya dan kemampuannya untuk menggali modal dari pihak lain. Modal dalam bisnis tidak selalu berbentuk uang, modal dapat dimulai dari sekedar kreativitas.
Langkah memulai bisnis, bagaimana memulai bisnis yang tepat? Cobalah berfikir tentang cita-cita yang ingin anda raih. Banyak sumber informasi yang dapat anda baca, baik dari majalah bisnis, media masa, maupun dari internet. Namun apakah bisnis tersebut cocok buat anda? Pertanyaan inilah yang sebaiknya dihubungkan dengan cita-cita anda. Jika saat ini anda berkeyakinan untuk mendirikan sebuah bisnis, lakukanlah langkah-langkah awal untuk mewujudkannya. Memulai bisnis tidak selalu serumit yang dibayangkan, banyak intrepeneur sukses yang hanya berawal dari memulai sebuah bisnis yang sederhana. Berikut ini adalah langkah memulai bisnis yang dapat anda terapkan dalam memulai bisnis anda.
Langkah memulai bisnis :
1. Tetapkan target dan tujuan
Tetapkanlah tujuan serta target finansial yang ingin anda dapatkan. Jangan hanya berangan-angan, tetapi tulislah pada secarik kertas atau pada sebuah perencanaan studi kelayakan bisnis. Dengan demikian anda akan lebih mudah mengingatnya serta memberikan semangat untuk meraih tujuan.
2. Memilih bisnis
Setelah menetapkan tujuan, pilihlah bisnis yang sesuai dengan modal yang anda miliki. Jangan memilih bisnis yang hanya menghabiskan energi dan waktu, tetapi tidak sejalan dengan cita-cita yang anda idam-idamkan. Untuk contoh bisnis dapat anda lihat pada artikel-artikel yang saya buat sebelumnya.
3. Hobi vs semangat
Lakukan pekerjaan yang dicintai seperti halnya hobi anda. Dengan begitu anda akan mendapatkan energi positif, sehingga akan terus memacu semangat dalam meraih cita-cita serta keuasan tersendiri dari hasil yang dicapai.
4. Do it now
Jangan menunggu hingga masa pensiun. Mulailah bisnis anda sekarang jangan menundanya, mulailah bisnis selagi anda masih bekerja. Belajarlah dari mereka yang telah berhasil meraih kesuksesan dan jadikanlah mereka sebagai mentor maupun motivator anda. Jangan segan-segan bergaul dengan wirausahawan sukses, dan teruslah mencari referensi dari berbagai sumber untuk mempercepat kesuksesan. Tidak perlu menunggu persiapan matang, segera lakukan dan teruslah belajar karena sebuah proses dan keyakinan akan membawa anda mencapai kesuksesan
Demikianlah beberapa langkah memulai bisnis yang dapat anda terapkan dalam diri anda, carilah bisnis yang anda senangi dan lakukan sekarang jangan terus menundanya. Tanamkan keyakinan bahwa bisnis yang anda jalankan akan meraih kesuksesan. Selamat berbisnis.

Kunci sukses pengusaha 
Banyak orang takut untuk memulai sebuah usaha, karena takut gagal atau takut tidak punya modal. Sebenarnya ada juga usaha yang tidak memerlukan banyak modal tetapi dapat memperoleh banyak keuntungan. Sudah banyak contoh pengusaha yang meraih kesuksesan, tentunya kunci sukses pengusaha adalah dengan kerja kerasnya. Disamping kunci utama kesuksesan pengusaha adalah kerja keras berikut ini beberapa kunci sukses pengusaha yang mungkin dapat anda terapkan pada diri anda.

Kunci sukses pengusaha:
1. Perencanaan – Memang benar tanpa adanya rencana kemana Anda menuju, Anda memiliki peluang yang kecil untuk mencapainya. Alasan nomor satu mengapa banyak usaha baru yang gagal adalah kurangnya antisipasi mereka dalam menghadapi masalah karena tidak adanya perencanaan.
2. Menetapkan tujuan – Bersamaan dengan perencanaan adalah menetapkan tujuan. Tanyakan pada pengusaha sukses, dimanapun, jika mereka menetapkan dan mengerjakan yang mengarah mencapai tujuan, atau  mereka melakukannya “mengikuti aliran” dan berharap yang terbaik. Jawabannya sudah jelas namun sering diabaikan.
3. Adaptasi – Setiap bisnis, apapun jenisnya, menghadapi tantangan dan persaingan yang tidak ada habisnya. Diperlukan kemampuan untuk beradaptasi dan mengatasi tantangan-tantangan ini untuk menentukan apakan usaha bisa bertahan atau tidak. Pasar dipenuhi dengan berbagai usaha yang tidak mampu atau tidak mau beradaptasi pada perubahan.
4. Inovasi – Lebih penting daripada sekedar mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar, pengusaha yang sukses akan terus-menerus fokus pada upaya mereka untuk berinovasi dan peningkatan atau membuat mereka keluar dari bisnis saat pelanggan mencari pesaing yang menawarkan sesuatu yang tidak Anda pikirkan .
5. Modal – Modal merupakan salah satu faktor penting dalam memulai bisnis. Banyak orang ingin memulai usaha, namun tak mempunyai modal sehingga tidak jalan. Padahal, untuk memulai usaha bisa dilakukan tanpa modal. Modal terbagi menjadi tiga, modal sendiri, mencari modal dari investor atau bank, dan modal partnership. Modal sendiri dapat diraih dengan cara menabung, atau bisa juga memulai bisnis sendiri dengan tanpa modal seperi menjadi reseller (pengecer) sebuah barang.
6. Marketing – Seorang pengusaha harus mengetahui kelebihan produk yang membedakan dengan barang sejenis. Setelah itu, dipadukan dengan promosi yang menarik sehingga dapat menarik orang untuk membeli produk. Marketing juga dapat dipadukan dengan networking, sehingga menjadi komunikasi marketing yang terintegrasi.
Kehadiran media sosial bisa jadi strategi marketing tersendiri. Kehadiran media sosial dapat digunakan seorang entrepreneur untuk membangun komunitas. Komunitas dapat diarahkan untuk membuat acara yang terkait dengan produknya.
7. Jaringan – Menjadi seorang pengusaha harus mempunyai relasi yang luas dan banyak. Kita tidak bisa membuka usaha kalau tidak bisa melakukan networking. Memperbanyak jaringan menjadi sangat penting bagi perluasan usaha Anda. Setiap orang dapat menjadi potensi sebagai konsumen atau bekerja sama dalam mengembangkan bisnis.

8. Mulailah sekarang – Dalam menjalankan bisnis seorang pengusaha harus terus mengembangkan diri dengan membaca buku dan mendatangi seminar-seminar pengusaha untuk memotivasi diri. Dan yang paling penting mulailah sekarang usaha anda, jangan menundanya, dan jangan takut, karena kesuksesan ada didepan anda.

Kata zaman berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti lama sekali sedangkan purba berasal dari bahasa kawi yang berarti kuno. Kemudian Kala juga dari bahasa kawi yang memiliki arti waktu atau kurun. Jadi zaman purbakala artinya masa silam yang sudah lama sekali sampai ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Zaman Purbakala atau yang sering disebut dengan zaman prasejarah. Yaitu zaman sebelum manusia dapat menyusun sejarah.
Pada zaman dahulu sebelum adanya kerajaan Wengker dan Kabupaten Ponorogo, di daerah sebelah barat dan timur pernah dihuni oleh manusia. Sebelah timur di kaki gunung Pandan seudah pernah didiami manusia. Karena disana banyak ditemukan fosil atau tulang manusia yang bentuknya besar-besar dan disebut sebagai tulang raksasa. Kemudian di sebelah barat yaitu di sekitar Kecamatan Sampung pernah juga ditemukan fosil hewan dan manusia kemudian disana juga ditemukan alat-alat pertanian seperti linggis, kapak, dan alu yang semuanya berasal dari batu. Sehingga pada waktu itu disebut Zaman Batu.

Jika dihuni oleh manusia berarti memang benar sebab disana ada bukti-bukti peninggalannya. Hanya saja belum bisa diketahui dari bangsa apa dan negara mana. Waktu itu manusia belum bisa baca tulis, karena belum mempunyai huruf sehingga tidak dapat membuat bukti-bukti tertulis atau prasasti atau peninggalan sejarah yang tertulis. Keadaan seperti ini disebut zaman prasejarah dimana zaman sebelum manusia dapat menulis sejarah. Zaman Wengker dahulu di Ponorogo ini memiliki suatu kerajaan. Kerajaan ini oleh banyak orang disebut dengan Kerajaan Wengker. Kerajaan Wengker ini ada sekitaran tahun 986-1037 M. Selanjutnya datangnya agama Islam di Ponorogo dan berdirinya Kadipaten Ponorogo pada tahun 1486 M. Oleh karena itusehubungan dengan uraian–uraian diatas maka penulis mengambil judul tentang “Sejarah Napak Tilas Ponorogo tahun 1037-1486 M”.
Zaman Hindu Kerajaan Wengker
Sebelumnya dengan runtuhnya kerajaan Medang di Jawa Tengah banyak rakyantnya yang pindah ke Jawa Timur. Pada tahun 1928 Empu Sendhok yang merupakan patih dari kerajaan Medhang dia beserta keluarganya pindah ke Jawa Timur. Tidak sedikit rakyat yang mengikuti jejak Empu Sendhok untuk pindah ke Jawa Timur.
Di Jawa Timur kemudian mendirikan sebuah kerajaan, kerajaan itu diberi nama keraajaan Watonmas. Kerajaan Watonmas itu berada disekitar sungai Brantas antara Malang dan Surabaya. Kemudian Empu Sendhok itu dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Sri Isana Wikrama Darrmotungga Dewa, yang mana menjadi moyang bagi raja-raja di Jawa selama 300 tahun berturut-turut sampai dengan tiga keturunan. Akan tetapi kerajaan Watonmas itu tidak bertahan lama karena diserang oleh musuh sehingga kerajaan Watonmas itu runtuh. Kemudian muncul suatu kerajaan baru yaitu kerajaan Kahuripan. Kerajaan Kahuripan dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Airlangga. Masa pemerintahan Raja Erlangga antara tahun 1000-1042. Setelah Empu Sendhok, ternyata juga ada rombongan lain dari Jawa Tengah yang pindah ke Jawa Timur di bawah pimpinan putra Raja Medhang yang bernama Kettu Wijaya.

Kemudiaan Kettu Wijaya beserta rombongannya berjalan melewati jalur sebelah selatan hingga di sebelah timur Gunung Lawu kemudian mereka beristirahat dan menetap disana. Dengan kejadian  itu mereka mendirikan sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Wengker. Berdirinya kerajaan Wengker itu dibuktikan dengan adanya sebuah prasasti yang ditemukan di Sendang Kanal Madiun. Didalam prasasti tertulis berdirinya kerajaan Wengker pada tahun 986 – 1037 M dengan rajanya yang bergelar Kettu Wijaya.
Nama Wengker merupakan akronim dari “Wewengkon angker” atau tempat yang angker. Wilayah kerajaan Wengker meliputi sebelah Utara yaitu Gunung Kendeng sampai Gunung Pandan. Kemudian sebelah timur merupakan Gunung Wilis ke selatan sampai ke laut selatan. Kemudian sebelah selatan merupakan wilayah laut selatan dan sebelah barat dari pegunungan mulai laut kidul ke utara samapai ke Gunung Lawu.
Kemudian didalam buku Hindhu Yavansche Tiyt halaman 134 yang di tulis oleh Proffesor Doktor N.J. Krom menjelaskan bahwa kerajaan Wengker terletak di desa Setono Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo (Purwowijoyo, 1990: 13).  Kemudian didalam bukuSejarah Indonesia yang ditulis oleh Dra. Setyawati Sulaiman juga menjelaskan bahwa kerajaan Wengker itu terletak di dekat desa Setono (Purwowijoyo, 1990:13).
Kemudian berdasar penelitian menyebutkan bahwa kerajaan Wengker itu, kerajaannya terletak di desa Kadipaten perbatasan berbatasan dengan desa Setono. Kerajaan Wengker dipimpin oleh seorang raja bernama Raden Wijaya atau Kettu Wijaya. Kerajaan Wengker itu kerajaan yang kuat, amat sentosa, rajanya sakti mandraguna dan rakyatnya banyak yang berilmu tinggi dan senang dalam melakukan dalam tapa brata.  
Kerajaan Wengker dikelilingi oleh sungai yang menjadi batas kota dan sebagai benteng pertahanan. Selain itu juga terdapat tiga benteng dalam tanah istilahnya Benteng Pendem. Pada tahun 947 M, Empu Sendhok digantikan anaknya yang bernama Sri Isyanatungga Wijaya yang menikah dengan Sri Lokapala. Selanjutnya ia digantikan putranya, Sri Makuyhawangsa Wardana. Sri Makuthawangsa Wardana mempunyai dua orang putri. Salah satu putrinya menikah dengan Dharmawangsa. Selanjutnya sang menantu itulah yang kemudian memegang kekuasaan di Medhang. Salah satu putri Makuthawangsa yang bernama Mahendradatta menikah dengan Udayana dan mempunyai anak bernama Airlangga. Dalam memimpin Medhang, Dharmawangsa mempunyai ambisi besar memperluas wilayah. Kerajaan Medhang saat itu diperkirakan di sekitar daerah Maospati Magetan.
Pada tahun 1016, kerajaan Medhang diserang Sriwijaya bersama sekutunya yaitu Wurawari dan Wengker, sehingga raja Dharmawangsa dan seluruh pembesar kerajaan tewas. Kemudian peristiwa itu dikenal dengan sebutan “Pralaya” atau kehancuran. Selain itu beserta sekutunya ingin menghancurkan Medhang. Sementara keterlibatan Wengker adalah pengaruh ekspansif Medhang yang berusaha memperluas wilayah dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil dan juga persaingan dalam bidang ekonomi.
Satu-satunya yang berhasil lolos dari serangan tersebut adalah Airlangga yang pada saat itu sedang melangsungkan pernikahan dengan putri Dharmawangsa. Pada wakti itu usia airlangga 16 tahun, beserta Narotama ia bersembunyi di hutan sekitar daerah Wonogiri. Pada tahun 1019 M, Airlangga dinobatkan menjadi raja Kahuripan yang terletak di bekas reruntuhan kerajaan Medhang. Saat itu bekas kerajaan Medhang sepeninggal Dharmawangsa merupakan wilayah yang kecil karena setelah terjadinya Pralaya, wilayah Medhang menjadi terpecah-pecah. Airlangga merupakan raja yang tersohor dan berpengaruh besar.
Tahun 1028 M, Airlangga memulai usahanya menyatukan kembali wilayah Medhang termasuk terhadap kerajaan Wengker. Tahun 1031 Wengker bisa ditaklukkan. Pada tahun 1035 kerajaan Wengker ternyata bangkit dan kuat lagi. Airlangga kembali menyerang Wengker dengan kekuatan pasukan yang besar. Pada tahun 1037 M, Kettu Wijaya mengalami kekalahan, terpaksa meninggalkan harta benda dan permaisurinya. Kettu Wijaya lari ke desa Topo kemudian pindah ke Kapang diikuti bebrapa prajuritnya. Karena terus diserang pasukan Airlangga lari ke Sarosa. Disinlah akhirnya Kettu Wijaya dapat dikalahkan dan ia dibunh oleh prajuritnya sendiri. Kettu Wijaya hilang beserta jiwa raganya (muksa). Dengan semikian berakhir riwayat kerajaan Wengker dibawah pimpinan Kettu Wijaya. Selanjutnya wilayah Wengker menjadi daerah kekuasaan Airlangga.
Berselang sekitar 200 tahun muncul kerajaan baru yaitu kerajaan Bantarangin. Terletak di desa Sumoroto kurang lebih 12km arah barat kota Ponorogo yang masih bagian wilayah kerajaan Wengker.
Pada tahun 1078 kerajaan Wengker dipimpin oleh Kelono Sewandono. Rajanya yang bernama Kelono Sewandono dan patihnya bernama Kelono Wijaya yang masih saudara kandung. Raja Kelono Sewandono kakaknya memiliki paras yang tampan sampai dijuluki Tubagus Kelono Sewandono. Sedangkan adiknya berwajah jelek, keningnya nong nong, mata pendul, bermulut lebar, gigi besar-besar, pundak benjol dan rambunta gimbal. Meskipun berwajah jelek namun Kelono Sewandono memiliki kesaktian yang luar, ahli bertapa dan kaya akan mantra-mantra (Purwowijoyo,1990:14).
Pada suatu malam Kelono Sewandono bermimpi bertemu dengan putri Kediri yang bernama Dewi Songgolangit. Keesokan harinya beliau mengutus adiknya yaitu Kelono Wijaya untuk melamar Dewi Songgolangit ke Kediri. Sang Prabu Kertojoyo raja Kediri mengetahui jika putrinya ketakutan melihat tamunya yang baru datang, namun akan menolak takut karena raja Bantarangin itu orangnya sakti mandraguna. Kemudian dia minta persyaratan untuk proses pernikahan nanti yaitu (Purwowijoyo,1990:15) :
1.      Minta seperangkat gamelan (gong) yang belum ada di bumi ini dan digunakan untuk mengiringi jalannya temanten dari Wengker sampai Kediri.
2.      Minta berbagai mcam hewan isi hutan yang dihalau ke Kediri untuk mengisi kebun binatang
3.      Minta manusia berkepala harimau.
Sesampainya di Bantarangin segera menyatakan apa saja yang menjadi permintaan Putri Kediri. Kelono Sewandono murka mendengar apa yang dikatakan adiknya. Permintaan itu tidak wajar, tidak akan terlaksana, maka kerajaan kediri akan diserang dengan peperangan. Dengan kesaktian ilmunya seluruh hewan hutan dapat dikumpulkan di alun-alun lalu merakit alat musik model baru yang terbuat dari bambu dan kayu seperti seruling (terompet), angklung, ketipung dan gendang. Ketuk, kenong dan kempul juga dari bambu. Seperangkat alat musik (gamelan) yang terbuat dari bambu semuanya sudah disiapkan termasuk penabuhnya (pemainnya). Tinggal manusia berkepala harimau (macan) yang akan diketemukan nanti.
Sesudah semua persyaratan selesai calon temanten laki-laki yaitu Raja Bantarangin diiring menuju kerajaan Kediri. Gamelan (musik) dipukul dengan sorak sorai, gembira, gemuruh laksana batu bata runtuh. Waktu itu Kelono Wijaya tidak boleh ikut karena nanti akan menakuti Putri Kediri dan dikatakan kakaknya bila ikut memalukan karena jelek rupanya. Akhirnya mengalah dan menerima untuk menjaga kerajaan.
Ternyata Patih Kediri yang bernama Singolodro yang juga disebut Barongseta juga menghendaki ingin menyunting Dewi Songgolangit. Patih Singolodro itu juga sakti mandraguna, dan kondang dapat berubah menjadi harimau putih karena itu disebut Barongseto. Mendengar ramai-ramai gemuruh sorak-sorai masuk kota secepat kilat dengan penuh keberanian menerjang barisan pengiring pengantin. Para pengiring temanten bubar lari kesana kemari. Hewan yang digiringpun lari tak karuan hanya tinggal Barongseta berhadapan dengan Kelono Sewandono.
Keduanya lalu perang tanding Kelono Sewandono naik kuda sambil membawa tombak Singolodro membawa tameng dengan sebilah pedang. Singolodro terkena tombak Kelono Sewandono seketika berubah menjadi harimau gembong yang berwarna putih menubrak musuh mengenai leher bagian belakang terlepas dari kudanya. Bergulung-gulung antara harimau dengan manusia. Akhirnya Kelono Sewandono jatuh terbanting dicengkram oleh harimau. Kemudian dicakar, dicengkeram, dikunyah-kunyah, dibangting-banting seperti kucing makan tikus dibuat permainan oleh Singolodro.
Kelono Wijaya yang menunggu kerajaan, merasa malu karena kakaknya menghinanya, malu mengakui saudaranya karena jelek rupa lalu dia pergi dari kerajaan bertapa di gunung Wilis menggugat para dewa menuntut keadilan minta wajah yang bagus seperti kakaknya. Kemudian permintaan itu diterima, turunlah Dewa dari kayangan memberi topeng mas yaitu topeng manusia yang bagus seperti halnya Kelono Seswandono, satunya berupa pecut atau cambuk yang diberi nama pecut Samandiman. Setelah Kelono Wijaya sampai di alun-alun Kediri tahu kakaknya dimakan harimau gembong, lalu didekatinya. Pecut Samandiman diacungkan diatasnya. Tidak tahu asal usulnya darimana, seketika Singolodro kehabisan tenaga, lemah lunglai tanpa daya sambil mengaduh.
Kelono Wijaya menolong kakaknya, dengan mengucap mantra-mantra sambil memegang seluruh tubuhnya, seketika kekuatan Kelono Sewandono kembali seperti sediakala, luka-luka sudah hilang, hanya luka bekas cakaran kuku harimau di mukanya yang tidak bisa pulih. Setelah selesai menolong kakaknya lalu menolong Singolodro. Diraba seluruh tubuhnya seketika itu berubah menjadi manusia tetapi kepalanya masih kepala harimau. Ini untuk mencukupi permintaan Dewi Songgolangit yang ketiga. Dengan kesaktian Kelono Wijaya, hewan-hewan yang tadinya lepas kesana kemari dengan petikan jari tangan saja sudah datang sendiri, setelah berkumpul terus menghadap Raja Kediri. Singolodro yang berubah berkepala harimau berada di belakang jadi genaplah persembahan 3 macam yang menjadi persyaratan Dewi Songgolangit telah dapat dipenuhi.
Kemudian diketahui jika putri Songgolangit hilang tidak diketahui kemana arahnya lalu bersama-sama mencarinya. Sampai disalah satu gunung di sana terdapat gua yang tertutup batu. Penutup gua itu diketuk dengan jari oleh Singolodro. Batu hancur lebur, kelihatan Dewi Songgolangit merebahkan tubuhnya dibatu. Kelono Sewandono senang hatinya, lalu dibujuk di ajak pulang, disanjung akan kecantikannya diajak ke kerajaan Bantarangin. Karena sepatah katapun Dewi Songgolangit tidak menjawab Kelono Sewandono marah, karena merasa dihina. Diapun berkata : “Orang idiajak bicara sepatah katapun kok tidak menjawab hampa diam seperti batu” terbukti sumpah yang dikatakan Kelono Wijaya, seketika Dewi Songgolangit berubah menjadi batu, berwujud arca seorang wanita (Purwowijoyo,1990:19).
Kelono Sewandono lalu menyerah, bila seperti itu memang bukan jodohnya, lalu diputuskan untuk pulang. Karena pinangannya gagal,akan lewat jalan semula merasa malu maka mencari jalan lain. Kelono Wijaya ingin Pecut Samandiman pemberian dewa akan dicoba kesaktiannya. Bermula akan lewat jalan bawah tanah mulai dari gua yang kemudian disebut gua Selomangleng di gunung Klotok, tanah dicambuk pecut bisa gusur, bisa berlubang seperti terowongan yang mudah dilewati. Sampai di kerajaan Bantarangin dapat melihat keluar dengan cara membelah sungai. Tempat pemunculannya merupakan gua yang yang dinamakan gua Bedali dari kata mbedhah kali (Jawa). Karena didalam gua itu terdapat sungai yang airnya mengalir. Selanjutnya Raja Bantarangin karena merasa kecewa akan menikah yang gagal, dia tidak akan menikah. Sebagai hiburan yang menjadi gantinya lalu ia memelihara anak laki-laki yang ganteng atau yang biasa disebut dengan gemblakan. Raja Bantarangin juga dikanal sebagai raja warok pertama. Warok berasal dari WARA yang memiliki arti pria agung, pria yang diagungkan.
Sesudah peristiwa raja Bantarangin, mempunyai peninggalan berupa sepetrangkat gamelan (musik) terbuat dari bambu. Itu diwariskan kepada rakyat lalu diperagakannya. Mencontoh perjalanan rajanya seperti itu lalu menjadi sebuah kesenian yang dinamakan REYOG (Purwowijoyo,1990:20).
Wengker Zaman Majapahit
Dimasa pemerintahan Airlangga, wilayah kerajaan wengker tidak pernah terjadi peprangan maupun persengketaan, sebaliknya menjadi daerah yang aman tentram. Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua yaitu Kediri atau Daha dan Jenggala atau Panjalu. Sepeninggal airlangga terjadi perang saudara antara kedua kerajaan tersebut. Situasi yang tidak stabil digunakan Wengker menyusun kekuatan baru sehingga sampai berdirinya Majapahit nama Wengker masih terdengar jelas bahkan hubungan kedua kerajaan terjalin dengan baik.
Dimasa pemerintahan Majapahit, Wengker dipimpin oleh seorang raja yang bernama Kudamerta atau Wijayarajasa. Dalam kitab Nagarakartagama disebutkan “Priya haji sang umunggu Wengker bangun hyang Upandra Nurun Narpari Wijayarajasanopamana parama-ajnottama”. Bahwa yang membangun kerajaan Wengker adalah Wijayarajasa sebagai raja pertama. Kemudian dalam kitab ini juga disebutkan Raden Kudamerta menikah dengan Bhre Dhaha. Raden Kudamerta berkedudukan di Wengker dengan nama Bhre Parameswara dari Pamotan yang dikenal dengan nama Sri Wijayarajasa. Yang dimaksud Bhre Dhaha adalah Dewi Maharajasa adik dari Tribhuwana. Berarti Wijayarajasa adalah menantu Raden Wijaya.
Selain menjadi raja Wengker, Wijayarajasa merupakan tokoh yang mempunyai peran besar di Majapahit antara lain salah satu dari 8 tokoh yang diundang pada waktu pengangkatan mahapatih Gajahmada tahun 1364 M, diangkat menjadi anggota dewan Sapta Prabu, menjadi anggota dewan pertimbangan agung tahun 1351 M, mengambil tindakan tegas terhadap kesalahan yang dilakukan Gajahmada atas peristiwa Bubat dan mendapat penghargaan dari Tribhuwana Tunggadewi.
Putra Wijayarajasa yang bernama Susumma Dewi atau Paduka Sori menikah dengan Hayam Wuruk pada tahun 1357 M, setelah prabu Hayam Wuruk gagal menikah dengan putri Pajajaran yang meninggal pada peristiwa Bubad. Pernikahan itu merupakan pernikahan keluarga karena ibu Susumma Dewi adalah adik Tribhuwana Tunggadewi yang merupakan ibu Hayam Wuruk. Hayam Wuruk dan Susumma Dewi merupakan sama-sama cucu Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana.
Dari pernikahan-pernikahan yang melibatkan dua kerajaan yaitu kerajaan Majapahit dan kerajaan Wengker. Menurut Dr. N.J. Krom, bahwa untuk pergi ke Bubad disamakan dengan ke Wengker. Seperti kita ketahui bahwa Perang Bubad terjadi sebagai akibat pernikahan politik yaitu salah satu cara Majapahit menaklukkan kerajaan disekitarnya. Walaupun wengker adalah daerah kekuasaan Majapahit tetapi kekuatan Wengker sangat diperhitungkan Majapahit. Kerajaan Wengker jarang diungkap keadaannya karena peran Wijayarajasa lebih banyak di Majapahit dibanding memimpin kerajaannya sendiri. Pusat pemerintahan Wengker ketika dipimpin Wijayarajasa berada di sekitar Kecamatan Sambit Ponorogo. Wijayarajasa meninggal pada tahun 1310 Saka dan dimakamkan di Manar dengan nama Wisnubhawano.
Zaman kepimpinan Wengker dimasa Majapahit berikutnya adalah Dyah Suryawikrama Girishawardana, ia adalah anak Dyah Kertawijaya. Ia memimpin Wengker sejak ayahnya masih memimpin pemerintahan Majapahit tahun 1447-1451 M. Setelah kekosongan kekeuasaan selama tiga tahun ia memimpin Majapahit selama 10 tahun (1456-1466 M). Dalam kitab Pararaton ia bergelar Bhre Hyang Purwawisesa. Ia meninggal tahun 1466 M dan dimakamkan di Puri. Sampai masa ini nama Wengker masih disebut dalam sejarah Majapahit.
Zaman Majapahit terakhir yaitu Brawijaya V sampai runtuhnya kerajaan Majapahit, Wengker masih ada. Tetapi yang berkuasa di kerajaan Wengker sudah tidak ada. Pemerintahannya hanya tinggal daerah Kademangan. Berada di sebelah selatan juga disebut Kademangan Wengker, Demangnya bernama Kethut Suryangalam. Melihat kata Ketut kiranya perubahan dari kata Kettu, nama raja Wengker pertama yaitu Kettu Wijaya. Dapat disimpulkan Ketut Suryangalam masih keturunan Kettu Wijaya.
Demang Suryangalam kondang akan kedigdayaannya, sakti mandraguna, tidak mempan segala senjata. Sampai zaman Wengker berakhirnya, rakyatnya beragama Hindu. Memuja kepada Syiwa, Brahma dan Budhayang arca-arcanya semua ada di Ponorogo.
Zaman Islam Kadipaten Ponorogo
Diakhir kejayaan Majapahit yang mana wilayah Majapahit terpecah-pecah. Wilayahnya seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya memerdekakan diri. Kerajaan Majapahit itu terakhirnya kerajaan Hindu di Tanah Jawa. Raja yang terakhir Prabu Brawijaya V juga masih ada Brawijaya VI dan VII tetapi sudah tidak ada kekuasaan sama sekali. Runtuhnya Majapahit pada tahun 1478 oleh Raja Kediri atau Daha yang bernama Ronowijaya Girinda Wardana, lalu dikalahkan oleh Adipati Bintoro Raden Patah. Pusaka kerajaan dan Pendopo kerajaan dipindah ke Demak. Raden Katong putra Brawijaya V ikut diboyong ke Demak. Demak menguasai kota-kota pesisir lain seperti Lasem, Tuban, Gresik dan Sedayu. Raden Patah diakui sebagai pemimpin kota-kota dagang pesisir dengan gelar Sultan.
Raden Patah merupakan putra Prabu Majapahit dengan putri Cina yang pada waktu itu hamil muda kemudian diberikan kepada Arya Damar, setelah lahir diberi nama Raden Patah. Prabu Majapahit yang mempunyai istri putri Cina adalah Brawijaya terakhir. Arya Damar menyatakan kepada permaisurinya bahwa putranya tersebut akan menjadi raja Islam yang pertama di Jawa. Sebagaimana kita ketahui bahwa kerajaan Islam yang pertama di tanah Jawa adalah Demak.
Pada saat Raden Patah menginjak kerajaan Hidu Majapahit telah mulai runtuh yang disebabkan perlawanan kaum bangsawan yang telah mendirikan kota di pantai utara dan mendapat dukungan Islam. Kesempatan ini dipergunakan Raden Patah untuk menemui Sunan Ampel atau Raden Rahmad. Raden Patah mengutarakan beberapa hal mengenai Majapahit yang telah lemah. Raden Patah tinggal di rumah Raden Rahmad untuk belajar beberapa hal setelah cukup diberi kedudukan di Bintoro. Bintoro dikembangkan atas dasar Islam. Mendengar hal tersebut raja Majapahit Prabu Brawijaya mengangkat Raden Patah menjadi mangkubumi di Bintoro. Berkat dukungan para wali, Bintoro berkembang menjadi kerajaan Islam pertama sengan nama Demak pada tahun 1403 Saka atau tahun 1481 M, dibawah pimpinan Raden Patah dengan gelar Panembahan Djimbun.
Seiring munculnya Demak Majapahit semakin parah dilanda krisis, Brawijaya telah direbut oleh Girishawardana yang sebenarnyatidak berhak atas tahta Majapahit. Pada waktu raja Brawijaya terakhir, telah memberi kekuasaan kepada Raden Patah yang kelak kemudian berkembang menjadi kerajaan Demak. Hal yang berbeda dialami putra Brawijaya V lain yang bernama Raden Katong yang belum mempunyai wilayah kekuasaan. Hingga terdengar berita bahwa sebelah timur Gunung Lawu ada seorang demang dari Kutu yang tidak mau menghadap ke Majapahit. Maka Raden Katong disuruh menghadapkan demang tersebut ke Majapahit. Kemudian Raden Katong di Demak lalu masuk Islam.
Demang Kutu tersebut adalah Ki Ageng Suryangalam atau terkenal dengan sebutan Kutu. Ia merupakan Punggawa Majapahit yang masih termasuk kerabat keraton maka oleh Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, ia diberi jabatan Demang. Kademangan Kutu atau Surukubeng wilayahnya adalah bekas kerajaan Wengker yang mana seiring semakin melemahnya Majapahit. Kyai Ageng Kutu meneruskan tata cara dan adat kerajaan Wengker dahulu. Para pembantu dan punggawanya diajarkan beladiri dan berperang serta tapa brata.
Raden Katong datang di Demak. Disertai dengan Seloaji diutus memeriksa bekas kerajaan Wengker yang ada di sebelah timur Gunung Lawu dan disebelah barat Gunung Wilis ke selatan sampai laut selatan. Mereka berangkat berdua, sampai sebelah barat Gunung Wilis bertemu dengan Kyai Ageng Mirah. Kyai Ageng Mirah itu merupakan putra dari Kyai Ageng Gribig seorang ulama dari Malang. Kyai Gribig putra dari Wasi Begono. Wasi Begono putra dari Brawijaya V. Kyai Ageng Mirah niatnya akan menyiarkan agama Islam di Wengker. Tetapi tidak bisa berlangsung karena penduduk Wengker semua beragama Budha. Mereka kemudian sepakat berjuang bersama, Raden Katong atas dasar pemerintahan sedangkan Kyai Ageng Mirah atas dasar penyebearan agama Islam. Mereka selalu koordinasi terhadap apa yang mereka hadapu dalam perjuangan ini. Kyai Ageng Mirah senang mendapat mitra Raden Katong karena masih keturunan Majapahit. Masalah Raden Katong adalah Kyai Ageng Kutu tidak mau menghadap ke Majapahit sedangkan Kyai Ageng Mirah kesulitan dalam menyebarkan agama Islam. Setelah saling berkenalan dan saling mengutarakan apa yang menjadi kepentingannya karena sama-sama tujuannya, mereka bertiga lalu meneruskan perjalanan melakukan pengamatan sampai laut selatan.
Pihak Raden Katong berusaha melakukan pendekatan persuasif terhadap pihak Ki Ageng Kutu, antara lain dilakukan Kyai Ageng Mirah terhadap Kyai Ageng Kutu secara dialogis agar Kyai Ageng Kutu bersedia mengahdap ke Majapahit. Tetapi Kyai Ageng Kutu menolak dengan alasan antara lain kerajaan Majaphit yang memberi pintu bagi penyebaran agama Islam padahal wilayah Wengker kebanyakan menganut agama sendiri yaitu Hindu dan Budha. Kyai Ageng Kutu menganggap penyebaran Islam yang dipimpin Raden Patah justru Majapahit mengangkatnya menjadi penguasa Demak Bintoro. Kyai Ageng Mirah menjelaskan bahwa pengangkatan Raden Patah tidak salah karena masih putra Brawijaya V. Teteapi Kyai Ageng Kutu tetap menganggap hal yang dilakukan Majapahit merupakan hal yang menyalahi aturan kerajaan sendiri. Akhirnya upaya dialogis yang dilakukan Kyai Ageng Mirah gagal.
Upaya persuasif dari pihak Raden Katong yang gagal dilaporkan kepada Prabu Brawijaya V, dan langkah yang dilakukan Brawijaya adalah mengirim pasukan Majapahit untuk menumpas Kyai Ageng Kutu. Rombongan pasukan tersebut di pimpin oleh Raden Katong. Pada dasarnya Raden Katong tidak mau bermusuhan dengan pihak Wengker mengingat jasa Kyai Ageng Kutu terhadap Majapahit begitu banyak. Tetapi Seloaji memberi nasihat bahwa apa yang dianggap Kyai Ageng Kutu benar adalah menurut Kyai Ageng Kutu sendiri, sedangkan pihak kerajaan menganggap hal yang menyalahi peraturan dan Raja pun langsung memerintahkan untuk menumpas, maka ia menasehati Raden Katong untuk tidak ragu-ragu dalam bertindak.
Kemudian terjadilah peperangan antara tentara Majapahit yang dipimpin Raden Katong beserta Kyai Ageng Mirah dan Seloaji serta beberapa tokoh lain. Jalannya peperangan termasuk didalamnya strategi perang yang dilakukanMaka pada tahun 1468 M, Kutu sebagai ibukota Wengker jatuh ke tangan Raden Katong dan bala tentaranya. Kyai Ageng Kutu bisa dikalahkan tetapi tidak ditemukan jasadnya atau musnah di bukit yang kemudian disebut dengan Gunung Bacin. Kyai Honggolono sebagai tangan kanan Kyai Ageng Kutu Tewas dalam pertempuran ini. Raden Katong sangat terharu melihat kematian Ki Honggolono dan musnahnya Kyai Ageng Kutu mengingat mereka berdua adalah para perwira yang berjasa besar kepada Majapahit terutama ketika merebut kembali Wengker yang sempat dikuasai Kediri. Konsolidasi dalam keluarga Kyai Ageng Kutu juga dilakukan antara lain menikahi dua putri Kyai Ageng Kutu yaitu Niken Sulastri dan Niken Gandini, putra pertama Kyai Ageng Kutu yang bernama Surohandoko menggantikan kedudukan ayahnya di Kademangan Kutu, Suryongalim dijadikan Kepala Desa di Ngampel, Warok Gunoseco menjadi kepala desa di Siman, Waro Tromejo di Gunung Loreng Slahung.
Setelah selesai kemudian kembali ke Demak, Kyai Ageng Mirah ikut sampai Demak. Setelah beberapa bulan di Demak, Raden Katong, Seloaji dan Kyai Ageng Mirah diutus kembali ke Wengker dengan diberi pangkat. Raden Katong diangkat menjadi Adipati bergelar Kanjeng Panembahan Batara Katong. Maka diberi nama Batara, karena Wengker rakyatnya semua beragama Budha (Purwowijoyo,1990:23).
Terjadinya Ponorogo
Pada suatu hari, yang kebetulan pada saat malam jumat bulan purnama, Raden Katong, Seloaji, Kyai Ageng Mirah dan Jayadipo duduk bersama di oro-oro (tanah gersang dan luas) untuk mengadakan musyawarah. Kemudian Raden Katong memulai pembicaraan, “Bapa Mirah, saya minta Bapa memikirkan pusat kota yang akan kita bangun ini, dimana dan bagaimanakah sebaiknya sebaiknya tempat untuk pendirian pusat kota itu diletakkan?” (Purwowijoyo,1985:39-40).
Kemudian Kyai Mirah menjawab, “Begini Raden, kalau untuk pusat kota sebaiknya kita pilih yang berbentuk Bathok Mengkureb (tempurung tengkurap). Itulah tanah dan tempat yang sebaik-baiknya untuk dihuni” (Purwowijoyo,1985:40).
Kemudian Jayadipo yang lebih mengenal daerah itu menyambung, “Raden, kalau berkenan dan sudi mendengar pendapat saya, untuk pusat kota Raden saya silahkan memilih ditengah-tengah tanah yang luas itu. Marilah sekarang saja kita semua kesana! Saya persilahkan Raden dan semua untuk melihat! (Purwowijoyo,1985:40).
Empat orang tersebut terheran-heran, semua melihat dengan sungguh-sungguh arah yang ditunjuk Jayadipo. Seloaji dan Kyai Ageng Mirah tidak melihat sesuatu apapun yang ada disana, akan tetapi Raden Katong melihat ada sesuatu di tengah-tengah padang rumput yang luas. Raden Katong melihat benda berbeda berjumlah tiga buah. Raden Katong bertanya kepada Jayadipo, “Kakang Jayadipo, saya melihat ada tombak, payung yang sedang terbuka dan satunya lagi saya kurang begitu jelas. Benda apakah itu kakang? Apakah maksud kakang menunjukkan benda ini kepada kami?” (Purwowijoyo,1985:40).
Raden diminta untuk menyembah tiga kali. Setelah menyembah tiga kali barulah Seloaji dan Kyai Ageng Mirah dapat menyaksikan keberadaan tiga benda tersebut. jayadipo mengatakan bahwa dia dan kakaknya bernama Jayadrono adalah abdi ari ayahanda yaitu Prabu Brawijaya V. Adapun pusaka itu ada disini karena kamilah yang membawanya. Dahulu ayahanda bersabda, jika kelak ada orang yang dapat melihat pusaka ini, itulah tanda kesetiaan Sang Prabu kepada orang itu maka berikanlah pusaka itu, selain itu Sang Prabu juga bersabda bahwa dahulu Katong memang diharapkan untuk menjadi raja menggantikan Sang Prabu. Itulah titah dari Ayahanda dan sekarang radenlah yang mewarisinya. Payung ini bernama Payung Tunggul Wulung, adapun tombak ini bernama Tombak Tunggul Naga dan satunya berupa sabuk yang bernama Sabuk Cinde Puspito.
Raden Katong menyembah tiga kali lalu mengambil payung Tunggu Wulung, Seloaji mengambil tombak Tunggul Naga, sedangkan Kyai Ageng Mirah mengambil sabuk (ikat pinggang) Cinde Puspita. Setelah ketiga barang itu diambil, terdengar suara gemuruh tiga kali. Bersamaan dengan itu, tanah berhamburan ke atas dan jatuh ke kanan kiri. Tanah yang berjatuhan tadi akhirnya menjadi gundukan tanah sebanyak lima puluh buah. Adapun tempat suara gemuruh terjadi, muncullah gua dengan lobang menganga. Kelak setelah empat puluh hari gua tersebut tertutup kembali seperti semula. Oleh Jayadipo gua tadi diberi nama Gua Sigala-gala. Adapun gundukan tanah tadi diberi nama Gunung Lima dan Gunung Sepikul dari situlah asal muasal Ponorogo (Purwowijoyo,1985:41).
Tiga orang disertai empat puluh santri yang sudah bisa membaca Qur’an dan mengerti maknanya. Diperintah babat di hutan Wengker membangun desa sampai menjadi kota. Semua kebutuhan dicukupi, berupa alat pembabat hutan, peralatan pertanian dan perkakas rumah tangga. Hanya waktu itu keluarga, anak dan istri tidak boleh ikut.
Sampai di sebelah barat Gunung Wilis, sebelah timur Gunung Lawu disana mereka istirahat. Ketepatan ditempat yang banyak glagahnya dan tanahnya berbau wangi, disitulah mulai dibabat.Babatan baru itu tadi dinamakan “Glagahwangi”. Orang yang berjumlah 40 dibagi menjadi empat kelompok yaitu utara 10, timur 10, selatan 10 dan barat 10 orang kemudian Raden Katong, Seloaji dan Kyai Ageng Mirah ditengah sebagai pengawas dan komando (Purwowijoyo, 1990: 23).
Musyawarah berlanjut untuk memberikan nama kota yang akan didirikan tersebut. setelah mufakat dan kemauan terikat mereka memutuskan kota bernama Pramanaraga. Pramana artinya perana yaitu menyatunya sumber cahaya dari matahri, bulan dan bumi yang berpengaruh menyinari kehidupan manusia yang digelar di alam raya. Ketiga unsur tersebut dinamakan Trimurti, bertempat dan menyatu dengan badan manusia menjadi mani. Mani laki-laki yang bercampur perempuan mendapat sabda dari kehendak Yang Maha Kuasa menjelma menjadi manusia. Jadi Pramana dan raga diumpamakan seperti madu dan manisnya, atau bunga dan sarinya, umpama api dan nyalanya. Sedangkan pana berarti mengerti akan segala situasi, mengerti dengan pemahaman yang sesungguhnya.
Setelah dapat tertata, lalu membuat kota dan berdasar putusan musyawarah nama Kadipaten Barunya PONOROGO. Dari kata Sankrit (sansekerta) Pramana Raga, disingkat menjadi Ponorogo. Pono artinya sudah mengerti semuanya, lahir dan batin sedangkan Rogo itu badan maknanya sudah mengerti pada raganya, bisa menempatkan diri artinya tepo seliro (Purwowijoyo,1990:23). Jadi Ponorogo berarti manusia yang telah mengetahui, mengerti kepada dirinya sendiri yaitu manusia yang sudah mengetahui unggah-ungguh (sopan santun) atau manusia yang sudah mengerti tentang tata krama (Purwowijoyo,1985:41).
Kemudian esok harinya, sewaktu fajar menyingsing, terdengar suara riuh rendah bunyi-bunyian, kentongan, bende, lesung, dan alat bunyi yang lain dipukul bersamaan sebagai pertanda lahirnya kota baru Pramanaraga. Pada hari Minggu Pon, bulan Besar tahun 1486 M diresmikan sebagai berdirinya kota Ponorogo, menjadi daerah Kabupaten. Adipatinya disebut Kanjeng Panembahan Batara Katong, Patihnya Seloaji, dan Penghulu agamanya Kyai Ageng Mirah. Kemudian berkeliling kota hingga pelosok desa. Disetiap tempat dipasang pengumuman tentang pendirian kota baru itu. Mulailah Pramanaraga dikenal masyarakat sebagai kota kadipaten yang baru. Sekarang kota Pramanraga terkenal dengan sebutan Ponorogo.
Berdirinya kota ini diperingati atau ditulis pada batu menggunakan Candra Sengkolo Memet. Candra Sengkolo Memet itu berupa gambar atau bangunan berupa gambar 4 jumlahnya, yaitu urut dari arah ke kanan, 1. Gambar orang semedi (bertapa), 2. Gambar pohon beringin, 3. Gambar garuda terbang, 4. Gambar Gajah. Pencipta memberi arti orang 1, beringin (kayu) 4, burung terbang 0, gajah 8 jadi dapat dibaca 1408 dalam hitungan Saka (Purwowijoyo,1990:24).
Kemudian jangka sepuluh tahun, membuat prasasti lagi di batu. Tertulis aksara Jawa, angka aksara Jawa 1418 tahun Saka atau 1496 M itu merupakan peringatan mulai patihnya Demang Suryongalam. Ponorogo sudah tidak ada keributan lagi. Para Warokan dan Warok yang semula suka mengganggu kepada para santri sudah tidak mengganggu lagi. Para pemimpin desa, tetua para warok bersama-sama pergi ke Kadipaten untuk menyerahkan diri dan minta tuntunan hidup bermasyarakat.
Para pamong praja, mulai demang, palang mantri, para bupati, prajurit dipenuhi. Pejabat lainnya dicukupi lebih-lebih permasalahan pertanian. Raden Katong sendiri selalu memberi contoh, mempunyai kebun merica di desa Mrican dan desa Sahang Ngebel (sahang=merica). Juga beternak hewan seperti sapi, kerbau dan kuda. Selama 10 tahun kota Ponorogo menjadi aman tentram, tidak ada curi-mencuri, perampokan atau brandal (Purwowijoyo,1990:24).
Sebelum itu situasi kota tidak aman tenteram, lebih-lebih usaha perkembangannya agama Islam selalu mendapat rintangan. Nama santri itu dimana saja terlihat berbeda, sebab busananya serba putih, sarung putih, baju takwa model cina juga putih. Padahal pakaian penduduk aslinya serba hitam. Jadi kelihatan mencolok bedanya. Jika ada santri lewat jalan melewati rumah penduduk asli, untung-untungnya hanya dijuluki, ujarnya : Santri Buki (santri Busuk”. Celakanya lagi kadang-kadang diejek agar marah. Jika marah lalu diajak gulat, bila sial ada juga yang meludahi (Purwowijoyo, 1990:24).
Berdasar kenyataan seperti itu Raden Katong dan Kyai Mirah lalu mengatur atau menyiasati santri, bila keluar dari rumah akan mengajar mengaji, tidak boleh sendirian, harus ada temannya paling tidak 3 – 5 orang (Purwowijoyo,1990:24).
Ini yang mungkin ada dalam benak kita ketika membaca judul di atas. Tapi, jangan heran, sebab filsafat ternyata mengajarkan kita untuk bertanya terlebih dahulu sebelum sampai di wilayah filsafat itu sendiri. Kalau kita sudah membuat satu pertanyaan penting dalam hidup kita, maka kita akan berjalan menuju wilayah filsafat dengan pasti. Jadi, sudahkah Anda membuat pertanyaan itu?

Misalnya begini. Apakah yang dinamakan blog itu? Secara sederhana tentu kita dapat menjawab bahwa blog adalah "satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital". Atau, mungkin Anda punya jawaban ini, blog adalah "diari elektronik".

Nah, dari pertanyaan sederhana tentang blog saja kita sudah mendapat dua jawaban yang berbeda. Jawaban pertama kayaknya terlalu formal, dan jawaban yang kedua lebih mudah kita ingat. Ini sudah menimbulkan sedikit masalah sebenarnya, karena kita mungkin bingung untuk memilih jawaban yang pertama apa jawaban kedua. Atau, malah Anda punya jawaban lain?

Bertambahnya jawaban, walaupun hanya satu, menandakan bahwa pikiran kita yang bingung mulai berkembang untuk mengatasi masalah tersebut. Ada jawaban A, B, hingga Z mungkin. Oleh karenanya, dibutuhkan kemauan dan kesanggupan kita untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam konteks ini, filsafat sebenarnya membantu kita untuk menata persoalan. Dalam kasus di atas, kalau kita memiliki jawaban lain yang mengatakan bahwa blog itu adalah "cara baru untuk bertegur sapa", kenapa ga kita coba aja membandingkannya dengan jawaban di atas.

A --> Blog adalah "satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital".

B --> Blog adalah "diari elektronik".

C --> Blog adalah "cara baru untuk bertegur sapa".

Tiga pengertian ini kalau kita ambil yang pokoknya akan terdiri dari beberapa istilah penting, yaitu: "tempat", "ekspresi", "bebas", "dunia digital", "diari", "elektronik", "cara", dan "tegur sapa". Istilah-istilah ini kan bisa kita rangkai lagi menjadi pengertian baru menjadi:

Blog adalah "cara berekspresi di dunia digital atau diari yang kita buat secara elektronik dan menjadi tempat untuk bertegur sapa dengan bebas".

Muncul deh jawaban baru yang merangkum semua jawaban. Inilah gambaran sederhana bagaimana kita berfilsafat. Seperti yang sudah saya singgung dalam posting sebelumnya, filsafat itu adalah "cara untuk memahami sesuatu". Itu sudah kita terapkan pada langkah-langkah kita untuk menyarikan jawaban baru untuk pengertian blog dari tiga jawaban sebelumnya.

So, inilah salah satu alasan kenapa kita belajar filsafat. Kita kan butuh satu cara untuk lebih memahami masalah-masalah kita; memahami keluarga, saudara, kerabat, sahabat, teman, teman dekat, pacar, "selingkuhan", kolega, orang asing, orang utan, dan macam-macam orang yang sejenis dengan "manusia"; juga yang terpenting memahami tujuan hidup kita sendiri.

Pada tingkat yang lebih jauh, dengan belajar filsafat atau tepatnya belajar memahami secara lebih baik, kita tidak akan menjadi egois alias mengaku yang paling benar. Kalau ada di antara kita yang tukang nyalahin orang itu berarti dia belum belajar filsafat. Dia hanya "belajar teori filsafat".
kata filsafat ini berasal dari bahasa Yunani, Philosophia. Terdiri dari dua bentukan kata, philos dan sophos atau philein dan sophia. Philos dapat bermakna "sahabat" atau "teman", sedangkan sophos berarti "kearifan". Sementara itu, philein tidak lain daripada "mencintai" dan sophia adalah "kebijaksanaan".

Dengan pemahaman serupa ini, paling tidak sudah ada sedikit pemahaman akan pengertian pertama dari filsafat. Namun demikian, kenapa ini disebut pengertian pertama? Ya, ini memang pengertian pertama. Sebab, kalau kita sudah membuka kamus atau buku filsafat yang seabreg-abreg itu, pengertian filsafat akan sesuai dengan pengertian penulisnya. Beberapa penulis mungkin akan mencapai kata sepakat tentang pengertian ini, sedangkan banyak yang lainnya malah berdebat seumur hidup tentang apa itu filsafat. Daripada berdebat seumur hidup dan akan membuat kita capek, mendingan kita pahami sedikit-sedikit aja ya?

Walaupun begitu, kita juga dapat memahami apa itu filsafat dengan cara sederhana. Misalnya, kita dapat mendefinisikan filsafat sebagai "sejarah pemikiran". Ini karena kalau kita membaca teks-teks filsafat yang utama, maka kita akan dihadapkan pada rangkaian pemikiran yang dimulai dari semenjak masa Yunani Kuno hingga masa sekarang ini. Namun, orang boleh saja mengatakan bahwa awal mula filsafat berkembang semenjak masa India Kuno ataupun Cina Kuno. Ini bisa dibuktikan secara historis, walaupun lagi-lagi muncul suatu perdebatan karenanya.

Contoh lain, kita dapat membuat definisi yang baru bahwa filsafat itu adalah "cara untuk memahami sesuatu", atau bahasa kerennya adalah "a method to understanding". Alasan ketika memilih pengertian ini adalah karena pada saat kita belajar filsafat, kita dituntut untuk memamahami apa pun. Baik pemahaman tentang sesuatu yang sudah ada maupun pemahaman akan sesuatu yang mungkin dapat kita pikirkan. Jadi, saking luasnya materi pemahaman filsafat, orang dapat saja tersesat ketika mencoba untuk memahami filsafat. Bahwa ada yang mengatakan filsafat itu sesat atau menyesatkan, itu karena memang beliau ini khawatir kalau kita-kita sebagai pemula pembelajar filsafat akan bingung dan akhirnya mengalami "elol" hingga masuk rumah sakit jiwa.

Nah, karena ada kemungkinan yang belum mungkin terjadi itu, maka belajar filsafat dengan cara yang mudah itu memang dibutuhkan. Ini juga diupayakan karena banyak orang salah memahami filsafat. Sebab, seringkali orang yang bertanya pada saya tentang apa itu filsafat sudah memiliki asumsi negatif. Baik karena mereka tidak tahu atau karena mereka menganggap remeh masalah-masalah filsafat. Bagi mereka, orang yang berfilsafat (filsuf) hanya membuang-buang waktu saja dan melakukan pekerjaan sia-sia. Oleh karena itu, mari kita belajar filsafat terlebih dahulu sebelum kita mencapnya sebagai sesat atau kesia-siaan. Kan, orang juga ga boleh berpikiran negatif tentang orang lain.
Kabupaten Ponorogo adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini terletak di koordinat 111° 17’ - 111° 52’ BT dan 7° 49’ - 8° 20’ LS dengan ketinggian antara 92 sampai dengan 2.563 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas wilayah 1.371,78 km²[3]. Kabupaten ini terletak di sebelah barat dari provinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Tengah atau lebih tepatnya 200 km arah barat daya dari ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya. Pada tahun 2010 berdasarkan hasil Sensus Penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo adalah 855.281 jiwa.

Hari jadi Kabupaten Ponorogo diperingati setiap tanggal 11 Agustus, karena pada tanggal 11 Agustus 1496, Bathara Katong diwisuda/dinobatkan sebagai adipati pertama Kadipaten Ponorogo. Pada tahun 1837, Kadipaten Ponorogo pindah dari Kota Lama ke Kota Tengah menjadi Kabupaten Ponorogo.Semenjak tahun 1944 hingga sekarang Kabupaten Ponorogo sudah berganti kepemimpinan sebanyak 16 kali.

Kabupaten Ponorogo dikenal dengan julukan Kota Reog atau Bumi Reog karena daerah ini merupakan daerah asal dari kesenian Reog. Ponorogo juga dikenal sebagai Kota Santri karena memiliki banyak pondok pesantren, salah satu yang terkenal adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di desa Gontor, kecamatan Mlarak.

Setiap tahun pada bulan Suro (Muharram), Kabupaten Ponorogo mengadakan suatu rangkaian acara berupa pesta rakyat yaitu Grebeg Suro. Pada pesta rakyat ini ditampilkan berbagai macam seni dan tradisi, di antaranya Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Etimologi

Ponorogo berasal dari dua kata yaitu pramana dan raga. Pramana berarti daya kekuatan, rahasia hidup, sedangkan raga berarti badan, jasmani. Kedua kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa di balik badan manusia tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, aluwamah / lawamah, shufiah dan muthmainah. Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan menempatkan diri di manapun dan kapanpun berada. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa pono berarti melihat dan rogo berarti badan, raga, atau diri. Sehingga arti Ponorogo adalah "melihat diri sendiri" atau dalam kata lain disebut "mawas diri".

Asal-usul nama Ponorogo bermula dari kesepakatan dalam musyawarah bersama Raden Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji dan Joyodipo pada hari Jum'at saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah katongan sekarang). Dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan dinamakan Pramana Raga yang akhirnya berubah menjadi Ponorogo.

Sejarah

Menurut Babad Ponorogo, berdirinya Kabupaten Ponorogo dimulai setelah Raden Katong sampai di wilayah Wengker. Pada saat itu Wengker dipimpin oleh Suryo Ngalam yang dikenal sebagai Ki Ageng Kutu. Raden Katong lalu memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman (yaitu di dusun Plampitan Kelurahan Setono Kecamatan Jenangan sekarang). Melalui situasi dan kondisi yang penuh dengan hambatan, tantangan, yang datang silih berganti, Raden Katong, Selo Aji, dan Ki Ageng Mirah beserta pengikutnya terus berupaya mendirikan pemukiman.

Tahun 1482 – 1486 M, untuk mencapai tujuan menegakkan perjuangan dengan menyusun kekuatan, sedikit demi sedikit kesulitan tersebut dapat teratasi, pendekatan kekeluargaan dengan Ki Ageng Kutu dan seluruh pendukungnya ketika itu mulai membuahkan hasil.

Dengan persiapan dalam rangka merintis kadipaten didukung semua pihak, Bathoro Katong (Raden Katong) dapat mendirikan Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV, dan ia menjadi adipati yang pertama.

Kadipaten Ponorogo berdiri pada tanggal 11 Agustus 1496, tanggal inilah yang kemudian di tetapkan sebagai hari jadi kota Ponorogo. Penetapan tanggal ini merupakan kajian mendalam atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala berupa sepasang batu gilang yang terdapat di depan gapura kelima di kompleks makam Batara Katong dan juga mengacu pada buku Hand book of Oriental History. Pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia yang bersemedi, pohon, burung garuda dan gajah. Candrasengkala memet ini menunjukkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 M. Sehingga dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu hari Minggu Pon, tanggal 1 Besar 1418 Saka bertepatan tanggal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H. Selanjutnya melalui seminar Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang diselenggarakan pada tanggal 30 April 1996 maka penetapan tanggal 11 Agustus sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo telah mendapat persetujuan DPRD Kabupaten Ponorogo.

Sejak berdirinya Kadipaten Ponorogo dibawah pimpinan Raden Katong , tata pemerintahan menjadi stabil dan pada tahun 1837 Kadipaten Ponorogo pindah dari Kota Lama ke Kota Tengah menjadi Kabupaten Ponorogo hingga sekarang.

Meninggalkan rumah Dursley 

Harry Potter memasuki umur 17 tahun di mana ia mencapai umur kedewasaan secara dunia sihir. Sebelum berumur 17 tahun, Harry masih terlindung dari Voldemort selama ia tinggal di rumah keluarga Dursley yang memiliki pertalian darah dengannya. Dengan memasuki umur kedewasaannya, mantera itu akan terangkat dengan sendirinya dan mengharuskan Harry untuk melindungi dirinya sendiri.

Atas informasi dari Severus Snape, Lord Voldemort dan para pengikutnya mengetahui informasi mengenai akan terangkatnya mantera perlindungan ini dan berencana untuk menyergap Harry ketika ia akan meninggalkan rumah keluarga Dursley. Voldemort juga sedang mencari tongkat sihir baru yang dapat mengatasi tongkat sihir Harry. Sesaat sebelum mantera perlindungan Harry berakhir, keluarga Dursley diamankan ke tempat yang dirahasiakan, dan beberapa anggota Orde Phoenix tiba untuk mengawal Harry ke tempat yang aman. Enam orang menyamar sebagai Harry, tapi Harry yang asli ketahuan dalam perjalanan dan diserang oleh Voldemort dan para Pelahap Mautnya. Harry berhasil melarikan diri ke rumah keluarga Weasley, the Burrow, tapi Hedwig dan Mad-Eye Moody terbunuh dalam pertempuran.
Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir Rufus Scrimgeour tiba di kediaman Weasley lalu dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Deluminator untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan/menyalakan cahaya); buku cerita anak-anak penyihir untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan Snitch pertama yang ditangkap Harry dalam pertandingan Quidditch pertamanya. Namun demikian, pedang Gryffindor ditahan oleh Menteri Sihir, karena kementerian berpendapat bahwa pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Belakangan, dari Snitch itu muncul sebuah petunjuk yang ditulis oleh Dumbledore: "Aku membuka pada penutup" ("I open at the close"). Walaupun ketiganya belum dapat mengetahui mengapa Dumbledore meninggalkan masing-masing mereka benda-benda tersebut, mereka mempercayai bahwa benda-benda itu dimaksudkan entah bagaimana untuk membantu mereka menemukan semua Horcrux Lord Voldemort.

Pencarian Horcrux 

Dalam resepsi pernikahan Bill Weasley dan Fleur Delacour, Patronus dari Kingsley Shacklebolt muncul dengan peringatan bahwa Kementerian Sihir telah jatuh dan para Pelahap Maut sedang mendatangi mereka. Harry, Ron, dan Hermione melarikan diri dengan berdisapparate, dan akhirnya berlindung di markas besar Orde Phoenix yang telah ditinggalkan di Grimmauld Place nomor dua belas, rumah yang diwarisi Harry dari Sirius Black. Di rumah ini, Harry mendapati bahwa ternyata adik Sirius, Regulus yang tewas oleh Voldemort, memiliki nama Regulus Arcturus Black yang berinisial sama dengan "R.A.B." yakni orang yang mengambil Horcrux liontin Salazar Slytherin dari gua pinggir laut yang tersembunyi. Hermione teringat pernah melihat sebuah liontin di antara barang-barang milik Kreacher, peri rumah di tempat itu. Kreacher merujuk Mundungus Fletcheryang mengakui telah mencuri liontin itu dari si peri rumah dan menggunakannya untuk menyogok Dolores Umbridge. Yakin bahwa liontin itu salah satu Horcrux yang sedang mereka cari, ketiganya memasuki Kementerian Sihir menggunakan samaran Ramuan Polijus. Mereka berhasil mengambil liontin itu dari leher Umbridge tanpa disadarinya, tapi tempat persembunyian mereka di Grimmauld Place berhasil diketahui musuh.

Ketiga sahabat itu melarikan diri. Mereka tidak berhasil membuka apalagi menghancurkan liontin itu, dan bergantian memakai liontin itu untuk menjaganya. Mereka juga berhasil mengetahui bahwa pedang "warisan Dumbledore" yang ditahan oleh kementerian sebenarnya adalah pedang tiruan; dan bahwa pedang Gryffindor yang aslilah yang dapat menghancurkan Horcrux-Horcrux itu. Harry hendak mencari pedang itu, tapi Ron, yang khawatir akan keamanan keluarga dan kecewa karena ternyata Harry tidak memiliki rencana apa pun dari Dumbledore, meninggalkan Harry dan Hermione. Keduanya kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari pedang itu. Di sana, mereka disergap oleh Nagini. Ketika mereka berhasil melarikan diri, Hermione tanpa sengaja mematahkan tongkat sihir Harry.
Di Hutan Dean, Harry melihat sebuah Patronus berbentuk Rusa betina di dekat tempat mereka berkemah. Patronus itu membawanya ke sebuah kolam es berisikan pedang Gryffindor. Ketika Harry berusaha untuk menyelam ke dalam kolam es untuk mengambil pedang tersebut, Horcrux liontin yang dikenakannya tiba-tiba mengetat dan berusaha mencekik lehernya. Ron, yang menggunakan Deluminator untuk mencari Harry dan Hermione, tiba dan berhasil menyelamatkan Harry dari tenggelam di kolam itu, mengambil pedang, dan kemudian berhasil menghancurkan liontin itu. Ron memperingatkan Harry dan Hermione bahwa nama Voldemort sekarang telah menjadi dimanterai Tabu - sehingga orang yang berani menyebut nama itu akan menyebabkan tempatnya bersembunyi akan tersingkap..

Relikui Kematian                                                                                                              

Ketiga sahabat pergi mengunjungi Xenophilius Lovegood, ayah Luna, untuk menanyakan mengenai simbol yang pernah mereka lihat dari tato Xenophilius dan simbol yang sama dengan simbol yang ada di buku anak-anak milik Hermione. Lovegood menyatakan bahwa simbol itu adalah simbol dari Relikui Kematian (the Deathly Hallows), tiga benda legendaris yang dapat menaklukkan kematian: Tongkat sihir Elder (Elder Wand), Batu Kebangkitan (Sorcerer Stone), dan Jubah Gaib. Ketika ditekan mengenai keberadaan Luna, Lovegood mengakui bahwa para Pelahap Maut telah menculik putrinya; dan bahwa ia juga telah memberitahu Kementerian Sihir (yang telah dikontrol oleh para Pelahap Maut) mengenai keberadaan ketiganya; namun mereka berhasil melarikan diri.

Pencopet (polisi rahasia Kementerian Sihir yang pro Voldemort) menangkap ketiganya di perkemahan mereka setelah Harry secara ceroboh menyebut nama Voldemort. Mereka dipenjarakan di rumah keluarga Malfoy, bersama-sama dengan Luna Lovegood, Dean Thomas, Ollivander si pembuat tongkat sihir, dan goblin Griphook. Ketika menemukan pedang Gryffindor di antara milik mereka, Bellatrix Lestrange mencurigai bahwa mereka telah mencuri masuk ke tempat penyimpanan miliknya di Bank Gringott. Bellatrix menyiksa Hermione untuk mendapatkan informasi. Dobby berapparate ke penjara bawah tanah tempat mereka semua disekap dan menyelamatkan mereka. Peter Pettigrew turun ke bawah tanah untuk menyelidiki kegaduhan dan mencekik Harry, yang mengingatkan bahwa Pettigrew berhutang nyawa kepadanya. Cengkeraman Pettigrew melemah, tangan peraknya terlepas dan mencekik tuannya sendiri sampai mati sebagai balasan hutang nyawa itu. Harry dan Ron berlarian menaiki tangga untuk menyelamatkan Hermione. Ron melucuti Bellatrix sementara Harry mengalahkan dan mengambil tongkat sihir Draco. Dobby muncul kembali dan mereka berempat berapparate ke rumah Bill dan Fleur Weasley, Shell Cottage. Sesaat sebelum mereka menghilang, Bellatrix melemparkan pisau dan secara fatal menembus tubuh Dobby.
Di kediaman Bill, Ollivander membenarkan akan keberadaan Tongkat Elder itu. Ia juga mengungkapkan bahwa sebuah tongkat sihir dapat memilih untuk berganti ke tuan yang baru jika pemiliknya dikalahkan atau dilucuti. Tindakan Bellatrix meyakinkan ketiga sahabat itu bahwa ada Horcrux lain yang disembunyikan di lemari besi Lestrange. Dengan bantuan Griphook, mereka memasuki Gringotts dan berhasil mengambil Horcrux yang lainnya, Piala Helga Hufflepuff. Griphook mencuri pedang Gryffindor, karena menganggap bahwa pedang itu sesungguhnya adalah milik kaum Goblin, dan ketiga sahabat berhasil melarikan Horcrux Piala itu. Dengan kejadian ini, Voldemort, yang berhasil mencuri Tongkat Elder dari makam Dumbledore, menyadari sepenuhnya bahwa Harry Potter dan sahabat-sahabatnya sedang mencari dan menghancurkan Horcrux-Horcruxnya. Secara tidak sengaja, pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort yang mengungkapkan bahwa ada satu lagi Horcrux yang disembunyikan di Hogwarts. Harry segera menyadari bahwa Horcrux di Hogwarts ini adalah Mahkota Rowena Ravenclaw.

Pertempuran Hogwarts

Di Hogsmeade, Aberforth Dumbledore membantu Harry, Ron, dan Hermione untuk menyelinap masuk ke Hogwarts. Mereka berhasil memasuki Hogwarts tepatnya di Kamar Kebutuhan dan disambut oleh seluruh anggota Laskar Dumbledore. Kemudian, Harry meminta bantuan mereka untuk mencari horcrux Mahkota Ravenclaw. Namun, ia mendapat penglihatan bahwa Voldemort akan datang ke Hogwarts. Tak lama kemudian, Harry memperingatkan para staf pengajar Hogwarts bahwa Voldemort akan segera datang menyerbu. Orde Phoenix, Laskar Dombledore, para pelajar lain, dan banyak alumni Hogwarts tiba di sana ketika para pengikut Voldemort tiba menyerang, dan salah satu pertempuran terbesar dan yan paling menentukan di dunia sihir dimulai. Pertempuran ini memakan banyak korban, di antaranya adalah Fred Weasley, Remus Lupin, Nymphadora Tonks, dan Colin Creevey. Dengan perlawanan mati-matian, pasukan gabungan Hogwarts mampu menahan serbuan pengikut Voldemort sehingga mereka tidak dapat memasuki Hogwarts lebih jauh. Sementara Harry mencari Horcrux Mahkota itu, Ron dan Hermione memasuki Kamar Rahasia untuk mengambil taring ular Basilisk yang dahulu dibunuh oleh Harry. Hermione menggunakan taring itu untuk menghancurkan Horcrux Piala Hufflepuff. Dalam pencarian itu, Harry kemudian teringat bahwa ia pernah melihat mahkota itu di Kamar Kebutuhan. Di kamar itu, ketiganya diserang oleh Draco Malfoy, Vincent Crabbe, dan Gregory Goyle. Crabbe mempergunakan mantera Fiendfyre yang sangat kuat yang malah membunuh dirinya sendiri dan juga menghancurkan mahkota itu.
Pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort kembali, dan ketiganya segera pergi ke Shrieking Shack. Mereka mendengar Voldemort memberitahu Severus Snape bahwa Tongkat Elder tidak dapat digunakannya dengan baik dikarenakan Snape telah menjadi tuan atas Tongkat itu setelah Snape membunuh pemilik Tongkat itu sebelumnya, Albus Dumbledore.Voldemort yakin bahwa dengan membunuh Snape maka Tongkat itu akan menjadi miliknya seutuhnya. Ia menyuruh Nagini untuk membunuh Snape, kemudian pergi ke Hogwarts. Ketika Snape sedang jatuh sekarat, ia memberikan Harry memorinya. Memori ini kemudian mengungkapkan bahwa Snape, sekalipun tidak sepenuhnya baik, adalah orang yang setia kepada Dumbledore, didorong oleh cinta seumur hidupnya kepada ibu Harry, Lily Potter. Dumbledore, yang hidupnya sudah tidak lama lagi akibat kutukan yang mengenainya dari Horcrux Cincin Gaunt, telah menyuruh Snape untuk membunuh Dumbledore bila perlu, untuk melindungi peranan Snape dalam Orde Phoenix dan juga untuk menggantikan Draco Malfoy yang ditugasi Voldemort untuk membunuh kepala sekolahnya. Adalah Snape juga yang mengirimkan Patronus Rusa betina yang mengantar Harry ke pedang Gryffindor. Memori itu juga mengungkapkan bahwa Harry sendiri adalah Horcrux — Voldemort tidak akan dapat dibunuh selama Harry masih hidup.
Pasrah akan nasibnya, Harry pergi seorang diri ke Hutan Terlarang di mana Voldemort telah menunggu. Dalam perjalan itu, Harry menemukan petunjuk dari Snitch, yang membuka dan di dalamnya terdapat Relikui Kematian Batu Kebangkitan. Harry memanggil arwah dari James dan Lily Potter (orang tuanya), Sirius Black dan Remus Lupin, yang menenangkan dan menemaninya ke tempat Voldemort. Ia kemudian membiarkan kutukan Voldemort, Avada Kedavra, mengenai dirinya. Harry terbangun di suatu tempat seperti di dunia lain dan tidak yakin apakah ia masih hidup atau sudah mati. Albus Dumbledore muncul dan menjelaskan bahwa bagian jiwa Voldemort yang berada di dalam diri Harry telah dihancurkan oleh kutukan pembunuh itu. Ia menjelaskan juga bahwa seperti Voldemort tidak dapat dibunuh sementara bagian jiwanya masih tersisa, maka Harry juga tidak dapat dibunuh sementara darahnya masih mengalir di tubuh Voldemort. Harry, yang berhasil "mengalahkan maut" dengan menyatukan ketiga Relikui Kematian, mendapat pilihan untuk "meninggalkan dunia" atau kembali hidup di dunia.
Harry memilih hidup kembali, tapi ia berpura-pura telah tewas. Voldemort menyuruh Hagrid untuk membawa Harry ke Hogwarts sebagai tanda kemenangan. Ketika pertempuran memanas kembali, Harry memakai Jubah Gaib. Neville menarik pedang Gryffindor dari Topi Seleksi dan berhasil memenggal kepala Nagini, menghancurkan Horcrux Nagini. Penduduk desa Hogsmeade, para Centaurus dan Thestral dari hutan, keluarga-keluarga siswa-siswi Hogwarts, beberapa pejabat Kementerian, beberapa alumni dan murid Hogwarts (terutama dari asrama Slytherin), Buckbeak si Hippogriff, dan para peri rumah Hogwarts bergabung dalam pertempuran dan dengan cepat menggulung pasukan Pelahap Maut yang sudah mulai kelelahan dan kalah jumlah. Di dalam kastil, McGonagall, Kingsley, dan Slughorn berduel melawan Voldemort; sementara Ginny, Hermione, dan Luna melawan Bellatrix Lestrange. Ketika sebuah kutukan pembunuh hampir mengenai Ginny, Molly Weasley terjun ke pertempuran, mendorong para gadis menjauh, dan dengan sengit bertempur dengan Bellatrix. Ia berhasil membunuh Bellatrix dengan manteranya. Harry menampakkan dirinya kembali dan menantang Voldemort. Harry berhasil menyimpulkan bahwa Voldemort bukanlah pemilik sejati dari Tongkat Elder. Ketika Draco Malfoy melucuti Dumbledore di Menara Astronomi, Draco tanpa sadar telah menjadi pemilik Tongkat Elder; dan ketika Harry belakangan merebut tongkat Draco setelah mengalahkannya, ia sendiri menjadi pemilik baru yang sejati dari Tongkat Elder. Voldemort melemparkan Kutukan Pembunuh kepada Harry yang dilawan Harry dengan Mantera Pelucutan Senjata; namun Tongkat Elder melindungi tuannya sehingga kutukan Voldemort memantul dan berbalik membunuh Voldemort sendiri.
Setelah pertempuran berakhir, Harry mendatangi lukisan Dumbledore. Ia memberitahu bahwa ia akan menyimpan Jubah Gaib itu, tapi untuk mencegah ketiga Relikui Kematian itu bersatu kembali, Batu Kebangkitan akan dibiarkan di tempat ia terjatuh di Hutan Terlarang, dan Tongkat Elder akan dikembalikan ke makam Dumbledore. Jika Harry kelak meninggal tanpa terkalahkan, maka kekuatan Tongkat Elder akan padam seiring dengan kematiannya. Lukisan Dumbledore menganggukkan persetujuannya. Sebelum menempatkan Tongkat Elder kembali ke makam itu, Harry mempergunakannya untuk memperbaiki tongkat sihirnya sendiri yang patah, karena Harry merasa lebih nyaman menggunakan tongkat miliknya sendiri.
Secara keseluruhan, sekitar 54 orang gugur dalam mempertahankan Hogwarts.

Epilog 

Sembilan belas tahun kemudian, Harry telah menikah dengan Ginny Weasley, dan mereka memiliki tiga anak bernama James Sirius, Albus Severus, dan Lily Luna. Ron dan Hermione juga menikah dan memiliki dua anak, Rose dan Hugo. Keluarga-keluarga itu bertemu di Stasiun King's Cross, di mana Albus akan memasuki tahun pertamanya bersekolah di Hogwarts. James, anak pertama mereka, sudah bersekolah di Hogwarts, sementara Lily baru akan masuk ke Hogwarts dua tahun kemudian.

Anak baptis Harry yang berumur sembilan belas tahun, Teddy Lupin, ditemukan berpapasan dengan Victoire Weasley (putri Bill dan Fleur) di salah satu kompartemen kereta. Teddy tampaknya sangat dekat dengan keluarga Potter, dengan perkataan Harry, "Ia sudah datang untuk makan malam bersama empat kali seminggu."
Harry juga melihat Draco Malfoy dan istrinya bersama putra mereka, Scorpius. Malfoy menganggukkan kepala singkat ke Harry, kemudian pergi.
Harry menenangkan Albus, yang khawatir akan masuk ke Slytherin. memberitahu bahwa Severus Snape, dari mana nama Severus diambil, adalah seorang Slytherin dan ia adalah orang yang paling berani yang pernah ditemuinya. Harry juga membocorkan bahwa Topi Seleksi akan mengikuti pilihan seseorang.
Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi dan berteman baik dengan Harry.
Buku ini diakhiri dengan pengungkapan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi selama sembilan belas tahun sejak Pangeran Kegelapan dikalahkan, dan semuanya berjalan dengan baik.